Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Laporan Keuangan

Covid-19 telah menciptakan volatilitas yang tinggi bagi perdagangan di bursa. Kasus pertama covid-19 di Indonesia terjadi pada bulan Maret 2020. Hal ini membuat harga – harga saham entitas dan harga saham gabungan turun secara signifikan setiap hari, sehingga membuat bursa sempat ditutup paksa. Hal ini berdampak pada laporan keuangan perusahaan di Indonesia. Berbagai macam pertimbangan perlu dilakukan oleh entitas agar laporan keuangan dapat sesuai dengan PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan).

Standar Akuntansi Keuangan yang terkena dampak dari pandemi ini adalah PSAK 8 “Peristiwa Setelah Periode Pelaporan”, PSAK 68 “Pengukuran Nilai Wajar” dan PSAK 71 “Instrumen Keuangan”. Entitas harus menggunakan pertimbangan yang tepat dalam menghasilkan laporan keuangan yang sesuai dengan keadaan dan fakta yang sebenarnya.

Saat mempertimbangkan PSAK 8, jika tanggal pelaporan keuangan adalah untuk tahun yang berakhir tanggal 31 Desember 2019, maka peristiwa pandemi merupakan peristiwa non penyesuai dan entitas diwajibkan mempertimbangkan kelangsungan usaha dalam penyusunan pelaporan keuangan.

Dalam menentukan nilai wajar, entitas wajib mempertimbangkan hirarki nilai wajar sesuai PSAK 68 untuk mengukur nilai wajar, apakah ada di level 1, level 2 atau level 3. Harga kuotasian di pasar aktif adalah nilai paling andal dari hirarki nilai wajar, kecuali transaksi tersebut adalah transaksi tidak teratur. Harga-harga yang turun secara signifikan di pasar aktif bukanlah transaksi tidak teratur. Maka, tidak tepat bagi entitas melakukan penyesuaian atas harga kuotasian atau memilih menggunakan level 2 atau 3 pada hirarki nilai wajar.

Jika entitas menyimpulkan bahwa tidak terdapat harga kuotasian pasar aktif, maka entitas dapat memilih hirarki level 2 dan 3. Namun, entitas tidak boleh mengabaikan informasi yang dapat diobservasi dan memberikan input yang jelas pada tekniki valuasi. Entitas juga harus mengungkapkan alasan menggunakan nilai tersebut dalam laporan keuangan.

Dalam mempertimbangkan PSAK 71, untuk penerapan awal kerugian kredit ekspektasian pada tanggal 1 Januari 2020, tidak tepat untuk memasukkan informasi Covid-19 dalam skenarionya karena kasus pertama Covid-19 di indonesia terdeteksi bulan maret 2020. Entitas dapat memasukkan dampak covid 19 dalam skenario model pengukuran kerugian kredit ekspektasian.

Jika perusahaan anda membutuhkan jasa asurans seperti jasa review laporan keuangan historis, jasa audit laporan keuangan historis atau jasa asurans lainnya atau jasa konsultasi terkait akuntansi, manajemen dan keuangan, anda dapat menghubungi kami melalui email info@sahatmt.co.id atau telepon 021-3452285.